Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat
menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu
tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat
kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. ((QS. Al-Baqarah
[2]:123))
Jumat, 29 Juni 2012
Makna Shalat dan Ibadah Sosial
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein
Suatu ketika saya berdiskusi dengan salah seorang teman sekantor ikhwal shalat dan ibadah sosial. Teman saya itu, bertanya, ''Bagaimana aspek sosial dari ibadah shalat?''
Dia merasa bahwa ritual shalat hanya bersifat vertikal, antara manusia dengan Allah SWT (Hamblumminallah).
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengkajinya melalui Alquran. Dalam sebuah ayatnya, Allah SWT berfiman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku” (Al Baqarah : 43).
Ayat itu menyiratkan bahwa shalat dan ibadah sosial (zakat) merupakan ‘satu paket’ ibadah yang harus dilakukan secara bersamaan. Karena shalat merupakan wakil dari jalur hubungan dengan Allah, sedangkan zakat adalah wakil dari jalan hubungan dengan sesama manusia.
Allah SWT berfirman, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Ma’uun, 107 : 1-7)
Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa orang yang shalat itu dapat dimasukkan ke dalam neraka bilamana shalat mereka tidak membuatnya menjadi pembela kepada fakir miskin dan anak yatim.
Sebagian ulama besar berpendapat, jika shalat adalah tiang agama, maka ibadah sosial (zakat) merupakan mercusuar agama. Atau dengan kata lain shalat merupakan ibadah jasmaniah yang paling mulia. Sedangkan ibadah sosial dipandang sebagai ibadah hubungan kemasyarakatan yang paling mulia.
Dengan demikian, shalat dapat dipahami sebagai sarana melatih diri untuk menjaga hak-hak sosial. Menjaga hak-hak orang lain adalah diantara bukti nyata keadilan. Untuk menjaga hak-hak orang lain.
Shalat yang juga merupakan ibadah terbaik, mempunyai peran luar biasa dalam mengokohkan kekuatan pengontrol pada diri manusia. Untuk itu, shalat sangat berpengaruh pada perluasan keadilan individu dan sosial.
Umat Islam juga meyakini bahwa sholat dan ibadah sosial merupakan pintu masuk surga Allah SWT. Dalam sebuah hadis disebutkan, orang yang mendirikan shalat dan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga.
“Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari).
Hadis di atas juga dapat kita renungkan dari dampak shalat terhadap ibadah sosial. Seseorang saat mengerjakan sholat, harus menjaga syarat-syarat yang di antaranya adalah kehalalan tempat dan pakaian yang digunakannnya. Serta tidak pernah melupakan aspek ibadah sosial. Dengan demikian, shalat pada dasarnya mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan keimanan secara sosial.
Suatu ketika saya berdiskusi dengan salah seorang teman sekantor ikhwal shalat dan ibadah sosial. Teman saya itu, bertanya, ''Bagaimana aspek sosial dari ibadah shalat?''
Dia merasa bahwa ritual shalat hanya bersifat vertikal, antara manusia dengan Allah SWT (Hamblumminallah).
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengkajinya melalui Alquran. Dalam sebuah ayatnya, Allah SWT berfiman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku” (Al Baqarah : 43).
Ayat itu menyiratkan bahwa shalat dan ibadah sosial (zakat) merupakan ‘satu paket’ ibadah yang harus dilakukan secara bersamaan. Karena shalat merupakan wakil dari jalur hubungan dengan Allah, sedangkan zakat adalah wakil dari jalan hubungan dengan sesama manusia.
Allah SWT berfirman, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Ma’uun, 107 : 1-7)
Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa orang yang shalat itu dapat dimasukkan ke dalam neraka bilamana shalat mereka tidak membuatnya menjadi pembela kepada fakir miskin dan anak yatim.
Sebagian ulama besar berpendapat, jika shalat adalah tiang agama, maka ibadah sosial (zakat) merupakan mercusuar agama. Atau dengan kata lain shalat merupakan ibadah jasmaniah yang paling mulia. Sedangkan ibadah sosial dipandang sebagai ibadah hubungan kemasyarakatan yang paling mulia.
Dengan demikian, shalat dapat dipahami sebagai sarana melatih diri untuk menjaga hak-hak sosial. Menjaga hak-hak orang lain adalah diantara bukti nyata keadilan. Untuk menjaga hak-hak orang lain.
Shalat yang juga merupakan ibadah terbaik, mempunyai peran luar biasa dalam mengokohkan kekuatan pengontrol pada diri manusia. Untuk itu, shalat sangat berpengaruh pada perluasan keadilan individu dan sosial.
Umat Islam juga meyakini bahwa sholat dan ibadah sosial merupakan pintu masuk surga Allah SWT. Dalam sebuah hadis disebutkan, orang yang mendirikan shalat dan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga.
“Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari).
Hadis di atas juga dapat kita renungkan dari dampak shalat terhadap ibadah sosial. Seseorang saat mengerjakan sholat, harus menjaga syarat-syarat yang di antaranya adalah kehalalan tempat dan pakaian yang digunakannnya. Serta tidak pernah melupakan aspek ibadah sosial. Dengan demikian, shalat pada dasarnya mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan keimanan secara sosial.
Redaktur: Heri Ruslan
Makna Shalat dan Ibadah Sosial
REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein
Suatu ketika saya berdiskusi dengan salah seorang teman sekantor ikhwal shalat dan ibadah sosial. Teman saya itu, bertanya, ''Bagaimana aspek sosial dari ibadah shalat?''
Dia merasa bahwa ritual shalat hanya bersifat vertikal, antara manusia dengan Allah SWT (Hamblumminallah).
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengkajinya melalui Alquran. Dalam sebuah ayatnya, Allah SWT berfiman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku” (Al Baqarah : 43).
Ayat itu menyiratkan bahwa shalat dan ibadah sosial (zakat) merupakan ‘satu paket’ ibadah yang harus dilakukan secara bersamaan. Karena shalat merupakan wakil dari jalur hubungan dengan Allah, sedangkan zakat adalah wakil dari jalan hubungan dengan sesama manusia.
Allah SWT berfirman, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Ma’uun, 107 : 1-7)
Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa orang yang shalat itu dapat dimasukkan ke dalam neraka bilamana shalat mereka tidak membuatnya menjadi pembela kepada fakir miskin dan anak yatim.
Sebagian ulama besar berpendapat, jika shalat adalah tiang agama, maka ibadah sosial (zakat) merupakan mercusuar agama. Atau dengan kata lain shalat merupakan ibadah jasmaniah yang paling mulia. Sedangkan ibadah sosial dipandang sebagai ibadah hubungan kemasyarakatan yang paling mulia.
Dengan demikian, shalat dapat dipahami sebagai sarana melatih diri untuk menjaga hak-hak sosial. Menjaga hak-hak orang lain adalah diantara bukti nyata keadilan. Untuk menjaga hak-hak orang lain.
Shalat yang juga merupakan ibadah terbaik, mempunyai peran luar biasa dalam mengokohkan kekuatan pengontrol pada diri manusia. Untuk itu, shalat sangat berpengaruh pada perluasan keadilan individu dan sosial.
Umat Islam juga meyakini bahwa sholat dan ibadah sosial merupakan pintu masuk surga Allah SWT. Dalam sebuah hadis disebutkan, orang yang mendirikan shalat dan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga.
“Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari).
Hadis di atas juga dapat kita renungkan dari dampak shalat terhadap ibadah sosial. Seseorang saat mengerjakan sholat, harus menjaga syarat-syarat yang di antaranya adalah kehalalan tempat dan pakaian yang digunakannnya. Serta tidak pernah melupakan aspek ibadah sosial. Dengan demikian, shalat pada dasarnya mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan keimanan secara sosial.
Redaktur: Heri Ruslan
Kamis, 28 Juni 2012
Cara Mengatasi Anak Pemarah
Anak pemarah merupakan masalah bagi orang tua, bayangkan saja anak selalu marah-marah jika permintaannya tidak dituruti, bagaimana pusingnya orang tua dalam menghadapi anak yang seperti itu? Jika anak sedang emosi atau marah biasanya dilampiaskan dengan cara membanting pintu, melempar sesuatu, menendang meja, mengacaukan segala hal dan berteriak-teriak penuh kemarahan.
Rasa marah bisa timbul akibat banyak sebab, termasuk yang terjadi pada anak-anak. Terkadang orangtua ikut kesal jika anak selalu bertindak marah-marah. Berikut akan dipaparkan bagaimana mengatasi anak pemarah menurut versi Vera Farah Bararah.
Read more: Cara Mengatasi Anak Pemarah | belajarpsikologi.com
Sebenarnya ada dua perasaan dasar yang menyebabkan anak-anak memiliki sifat pemarah. yaitu:
1. Seorang anak memiliki kengintahuan dan kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu, tapi seringkali kemampuannya tidak sekuat keinginannya. Hal ini biasanya membuat ia kesal dan menuntunnya ke arah frustasi yang diungkapkan dengan marah-marah.
2. Kemauan dan keinginannya untuk cepat menjadi besar. Biasanya anak-anak akan merasakan hal ini jika orangtua sudah melarang-larangnya dengan kata “tidak”. Karena ia belum bisa menguasai emosinya secara logis, maka ia memilih mengekspresikannya ke luar melalui kemarahan.
Cara Mengatasi Anak Pemarah
Sifat anak yang pemarah bisa menjadi masalah bagi ibu dan anak. Karena itu orangtua perlu memaklumi sifat anaknya tersebut. Seperti dikutip dari The baby Book karangan William dan Martha Sears, Jumat (19/3/2010) ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredamkan amarah, yaitu:
1. Mempelajari hal yang menyebabkan anak marah. Ketahui dengan pasti hal apa yang dapat memicu kemarahannya, seperti lapar, bosan, suasana lingkungan yang tidak mendukung atau lainnya. Dengan mengetahui penyebabnya, maka orangtua dapat mencegah kemarahan anak.
2. Memberikan contoh sikap tenang padanya. Anak mempelajari sesuatu dari apa yang dilihat dan dengarnya, karena itu penting untuk mencontohkan sikap tenang didepannya. Jika lingkungan disekitarnya suka marah-marah, maka anak akan menganggap bahwa perilaku ini merupakan hal yang wajar.
3. Ketahui siapa yang sedang marah. Bila orangtua adalah orang yang mudah emosi, maka akan sangat mudah bagi anak untuk memancing kemarahan dan berakhir dengan lomba saling teriak tanpa ada penyelesaian. Karena itu perlu diketahui siapa yang marah agar kondisi tetap terkendali.
4. Usahakan untuk tetap tenang meskipun berada di tempat umum. Sebaiknya orangtua tidak menunjukkan kemarahannya pada anak di depan banyak orang, karena anak akan semakin menunjukkan rasa marahnya. Jadi cobalah untuk menggendong dan membawanya ke tempat yang lebih sepi.
5. Memeluk dan merangkulnya erat seperti pelukan gaya beruang. Sebagian besar anak yang kehilangan kontrol akan menjadi lebih tenang saat dipeluk. Pelukan ini tidak akan terlalu mengekangnya, namun tetap memberinya keamanan dan kenyamanan yang dibutuhkan saat sedang marah.
6. Menahan diri adalah terapi yang baik. Tunggulah sampai ia tenang sebelum memulai konseling atau mengatasi permasalahannya, karena jika ia masih marah-marah kemungkinan Anda akan terpancing untuk ikut marah.
Semoga dapat bermanfaat dalam mengatasi anak pemarah..!!
Read more: Cara Mengatasi Anak Pemarah | belajarpsikologi.com
Persepsi yang kuarang pas kepada dunia Anak
Alhamdulullah Hari Ini Alloh masih memberikan kehidupan kepadaku yang menjadi pertanyaanku apakah besok masih bisa menatap cerahnya pagi hari dan senyum renyah buah hatiku semua, maafkan abimu nak yang belum bisa bersabar untuk menghadapi segala macam kreatifitasmu segala macam canda tawamu, abi masih belum bisa menyelami dunia semangatmu untuk terus bergerak berkarya!!!! maafkan ABI dan Umimu Ya nak? met istirahat mimpi yang indah semoga kita semua sekeluarga akan dukumpulkan disyurga-NYA amien
Abi & Umi
Yang selalu menyayangimu selalalu
SENYUM TULUS
SENYUM TULUS
dakwatuna.com – Ada sebuah amalan yang kecil dan
sangat mudah untuk dilakukan oleh semua orang. Amalan atau perbuatan
ini dapat membuat kita bahagia, atau juga saat kita merasa bahagia maka
kita melakukan amalan ini. Orang-orang atau saudara-saudara kita yang
melihat kita sedang melakukan amalan ini juga akan merasakan
kebahagiaan di hatinya. Apakah amalan itu? Yak… jawabannya adalah
senyum. Akan tetapi senyum yang bagaimana yang bisa seperti itu? Karena
senyum ada bermacam-macam. Ingin tahu jawabannya, sok… atuhAnda musti baca tulisan ini sampai selesai.
Rasulullah SAW bersabda,
“Senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah.”(H.R. Tirmidzi)
Setiap
senyum kejujuran yang Anda berikan kepada saudara Anda dengan penuh
keikhlasan akan berbalas seperti pahala sedekah. Sehingga seseorang
yang tetap memelihara senyumnya tentu akan mendapatkan kebaikan yang
banyak.
Jika kita berbicara matematis. Eits jangan pusing dulu,
santai aja lagi. Coba kita bayangkan bahwa banyaknya kebaikan yang akan
didapatkan oleh orang yang senantiasa memelihara senyum adalah sebanyak
orang-orang yang ia temui dengan senyum setiap hari sepanjang hidupnya.
Jadi kebaikan yang didapat bisa kita rumuskan dengan menghitung jumlah
rata-rata orang yang kita temui dalam sehari dengan senyum dikalikan
dengan hari seumur hidup. Maka sebanyak itulah kebaikan yang akan kita
dapatkan.
Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah
kalian meremehkan suatu perbuatan yang kecil meskipun hanya sekadar
bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri.”(HR. Muslim)
Tentu
wajah yang dihiasi senyuman tampak lebih indah dibandingkan dengan
wajah yang cemberut. Seseorang dengan senyumnya yang tulus akan
terlihat lebih tampan bagi laki-laki dan akan tampak lebih cantik bagi
yang perempuan.
Para orang pintar/ilmuwan mengatakan saat manusia
tersenyum, hanya dibutuhkan 13 urat syaraf yang bergerak. Akan tetapi
saat seseorang muram, diperlukan sekitar 47 urat syaraf yang bergerak.
Tentunya berwajah muram lebih melelahkan dibandingkan dengan kita
tersenyum. Jadi, masih lebih memilih bermuka muram yang lebih
melelahkan atau tersenyum yang juga akan membuat wajah kita terlihat
lebih tampan bagi yang pria dan cantik bagi yang perempuan? Penulis
menyarankan agar para pembaca yang cantik dan ganteng (karena semua
yang diciptakan Allah itu indah), akan tetapi ada yang lebih ganteng
dan cantik lagi para pembaca sekalian.
Seperti yang sudah
dituliskan di awal tadi. Maka penulis akan memberikan penjelasan
mengenai berbagai macam senyuman. Berdasarkan buku “Lughatul Jasad”
karya Athif Abdul Id yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh
Muhyiddin Mas Rida, Lc, ada berbagai macam senyuman yaitu sebagai
berikut:
- Senyuman yang tulus
- Senyuman palsu
- Senyum yang hampa memicu kesedihan
- Senyuman takjub
- Senyuman lembut dan hangat
- Senyuman optimis dan menggembirakan
- Senyuman munafik
Dan
senyum-senyum lainnya yang untuk lebih jelasnya bisa langsung baca
bukunya cari di toko buku terdekat, jangan di toko bangunan OK. Dari
semua senyum yang disebutkan di atas, hanya satu saja yang penuh dengan
kehangatan, yaitu senyuman yang tulus. Senyuman yang tulus dapat
memberikan pengaruh positif kepada orang lain.
Karena itulah
saudaraku, usahakanlah agar kita bisa selalu tersenyum dengan
tulus/ikhlas. Karena kebaikan yang akan kita dapatkan tidaklah sedikit
melainkan banyak sekali. Marilah kita hiasi wajah kita yang indah
rupawan yang diberikan Allah ini dengan senyum dan usahakan untuk tidak
menghiasi wajah kita dengan wajah yang muram.
Sumber: http://www.dakwatuna.com
Imu
subhanalloh semakin kita mempelajari ilmu kita akan semakin merasa belum bisa apa apa masih banyak yang belum kita ketahui
Buku agro
Telah Terbit edisi Perdana
Buku yang
anda cari

Penerbit : Mandiri Graffindo Press
Cukup Dengan
Rp.
50.000,-
Telp. (0281) 657 3058
Telp. (0281) 657 3058
Hub.
081328845937
Tiga Bekal untuk Para PemudaTiga Bekal untuk Para Pemuda
dakwatuna.com – Seorang yang memegang misi panjang,
tentu menyiapkan bekal menjadi hal amat penting. Demikian pula dengan
pemuda yang sudah sadar akan peran sebenarnya di tengah sekumpulan
makhluk Allah lainnya. Bekal di sini tak cukup hanya mencakup finansial
saja. Justru bekal non fisiklah yang terbukti membuat banyak pejuang
dan para pendahulu kita berhasil dalam misinya.
Bang Porkas (2012) menuturkan setidaknya ada tiga bekal yang patut diusahakan berada dalam genggaman pejuang muda, yaitu at-tarbiyah al-fithriyah, al-‘ilmu wa al-hikmah, dan asy-syakhshiyah al-qiyaadiyah.
1. At-Tarbiyah al-Fithriyah (Pendidikan Jiwa)
Makna at-tarbiyah al-fithriyah di sini sama dengan at-tarbiyah al-islamiyyah,
karena pada dasarnya fitrah dan jiwa manusia ialah sebagai seorang
Muslim yang mentauhidkan Allah SWT. Adapun pokok kegiatan di dalamnya
ialah pembinaan kesadaran, pemahaman, dan karakter keislaman serta
pengasahan potensi seorang Muslim. Seluruh rangkaian proses tersebut
tentu tak berhenti di titik menjadi pribadi yang shalih individu, namun
dituntut menjadi pribadi yang shalih sosial pula. Artinya, salah
indikator keberhasilan proses at-tarbiyah al-islamiyyah seseorang
ialah sejauh mana kontribusi yang bisa dia berikan untuk umat di
sekelilingnya. Adapun tindakan kongkretnya ialah berupa mujahadah (berupaya sungguh-sungguh) untuk senantiasa istiqamah dalam menambah kapasitas keilmuan, amal, serta meningkatkan skill penunjang misi. Jadi, pendidikan jiwa di sini mencakup tak hanya tazkiyatun nafs, tapi banyak hal lain yang membentuk kepribadian seorang Muslim yang utuh.
2. Al-‘Ilmu wa al-Hikmah (Ilmu dan Kebijaksanaan)
Selain
keilmuan agama, keilmuan umum pun menjadi syarat yang tidak bisa
diabaikan oleh para pengemban amanah masa depan. Masyarakat yang
menjadi target kita tentu akan lebih respect manakala
memiliki satu atau lebih disiplin ilmu yang kita kuasai. Peluang inilah
yang membantu tersampainya setiap pesan kebenaran yang membangun. Lain
keilmuan, lain pula kebijaksanaan. Perlu dicatat di sini bahwa jangan
sampai sebagai generasi muda kita terlampau berlebihan. Hal ini
sebenarnya tidak wajar karena hakikat seorang pemuda ialah penuh dengan
semangat yang menggebu, tidak apatis. Dan kebijaksanaan di sini
sebaiknya kita tarik ke arah keseimbangan antara perhitungan yang
matang dan semangat membumikan kebenaran di lingkungan kita. Jadi,
tidak ada dalih bagi pemuda untuk menjadikan tameng sikap bijaksana
untuk tidak bergerak. Demikian pula jangan sampai gerak-gerik perbaikan
itu dilakukan serampangan tanpa adanya pertimbangan.
3. Asy-Syakhshiyah al-Qiyaadiyah wa al-Jundiyyah (Pribadi Pemimpin dan Prajurit)
Pemuda
dengan pribadi ganda (pemimpin sekaligus prajurit) pun ternyata amat
penting guna memuluskan agenda kita. Hal ini berkaitan dengan
pencapaian misi bersama dalam sebuah jamaah atau perkumpulan. Ada
kalanya kita memang diperlukan untuk menjadi pimpinan dan pionir.
Namun, suatu saat kita pun harus siap menjadi prajurit atau yang
dipimpin. Perpindahan peran seperti ini tentu dilakukan bukan sekadar
formalitas, namun demi tercapainya tujuan dengan baik. Kita sebaiknya
tampil menjadi pimpinan saat memang itu adalah bidang yang kita kuasai
dan dikhawatirkan tidak maksimal bila dipegang orang lain. Tapi, ketika
pada saatnya sebuah tugas itu bukan merupakan bidang kita ada orang
lain yang bisa melakukannya, maka kita menjadi yang dipimpin adalah
pilihan utama. Apalagi jika kita kaitkan hal ini dengan regenerasi atau
distribusi tugas, maka shifting position ini amat penting
adanya. Tepat sekali jika orang bijak mengatakan bahwa kepemimpinan
sejati itu bukan perkara posisi, namun perkara kontribusi.
Sekali
lagi, bahwa segala mujahadah kita sebagai generasi mudah melalui
rangkaian bekal di atas harus mendapat perhatian khusus. Alangkah
dekatnya kemenangan itu jika bekal sudah kita genggam dan peran sebagai
pemuda harapan masa depan sudah kita tempuh dengan amat baik. Akhirnya,
kita harus sadari bahwa hal itu tentu bukan perkara mudah, namun bukan
berarti tak mungkin.
—
Disarikan dari materi “Peran
Pemuda dalam Membangun Bangsa” oleh Porkas Halomoan (mantan Ketua Rohis
UI; inisiator berdirinya Salam UI; Mantan pengurus departemen
Kaderisasi KAMMI Pusat; dan Direktur PT Azhar Tri Daya) dalam agenda
Mabit FSLDK Jadebek di Masjid Baitul Ihsan kompleks Bank Indonesia, Jakarta pada hari Sabtu-Ahad, 9-10 Juni 2012.
NIkmat yang sangat Besar!!!!
Begitu besar nikmat Alloh SWT sehinga kita semua tidak akan mampu menghitungnya satu persatu kita ambil contoh kecil saja ternyata udara yang kita hirup setiap hari kalau dihitung dengan uang maka kita harus membayar kepada Alloh Rp.176.000.000,-
Fabiayyi Alairabbikuma tukadiban (nikmat Alloh mana lagi yang engkau dustakan)
Fabiayyi Alairabbikuma tukadiban (nikmat Alloh mana lagi yang engkau dustakan)
Rabu, 27 Juni 2012
Iman adalah KUNCi
Hidup adalah sesuatu yang indah tapi semua tak akan menjadi indah kalau tidak ada keimanan dalam diri kita karena itu adalah hakekat dari kehidupan yang sebenarnya, karena setiap apa yang kita lakukan adalah parameternya adalah keimanan kita semua karena dari situlah kita meletakan Alloh dengan posisi yang benar sehingga kitapun akan dipermudah oleh Alloh SWT. Mari terus berkarya demi kajayaan Islam dengan meningkatkan keimanan kita semua
Langganan:
Komentar (Atom)

