Minggu, 11 November 2012

 AMAL YANG ISTIQOMAH
Oleh: Ustaz M Arifin Ilham
Musibah datang secara beruntun, usaha selalu berujung pada kegagalan, dan di tempat kerja diserang banyak fitnah.

Rumah tangga tidak pernah berhenti dari percekcokan, bahkan berakhir dengan perceraian. 

Inilah keadaan yang lazim kita temukan dalam keseharian kita, atau terkadang kita sendiri yang mengalaminya.

Hal yang tidak bisa dibantah adalah keadaan ini pasti berpengaruh terhadap sikap keberagamaan kita. Bagi yang rusak akidahnya maka akan menambah jarak yang jauh bahkan semakin jauh dengan Allah. Tapi, jika sedang bagus akidahnya maka dia akan bersegera mendekat kepada Allah.

Namun, yang perlu diperhatikan saat kita berada dekat dengan Allah adalah konsistensi. Jangan sampai ibadah dan pertaubatan kita terkesan hanya dilakukan kalau sedang butuh, sedang saat dilanda musibah, atau sedang disempitkan dengan ujian dan kesusahan, kita jauh dari Allah.

Peribadatan kita seakan temporal (sesaat). Sementara kalau sudah kembali normal, kemampuan mendekat dan bersenang-senangnya bersama Allah malah menghilang.

Bagi yang amalnya temporal, ketika menjelang pernikahan tiba-tiba saja ibadahnya jadi meningkat; shalat wajib tepat waktu, tahajud tampak khusyuk. Tapi, anehnya ketika sudah menikah, jangankan tahajud, shalat Subuh pun terlambat.

Ini perbuatan yang jelas menipu dan mengecewakan Allah dan malaikat. Sudah diberi kesenangan, justru malah melalaikan perintah-Nya. Harusnya sesudah menikah berusaha lebih gigih lagi dan semakin istiqamah.

Atau, ketika menjadi imam shalat, bacaan Alquran kita kadangkala digetar-getarkan atau disedih-sedihkan agar orang lain ikut sedih. Tapi, sebaliknya ketika shalat sendiri, shalat kita laksana kilat, ringkas, dan cepat.

Kalau shalat sendirian dia begitu gesit (cepat), tapi kalau ada orang lain jadi kelihatan lebih bagus. Hati-hatilah bisa jadi ada sesuatu di balik ketidakikhlasan ibadah-ibadah kita ini.

Yang jelas diharapkan adalah kemampuan istiqamah dan konsistensi dalam ibadah dan amaliah. Tidak penting dalam keadaan apa pun kita.

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami adalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan istiqamah mereka, maka malaikat (Kuasa Ilahi) akan turun kepada mereka dengan mengatakan, ”Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah kamu dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” (QS Fushilat [41]: 30).

Nabi SAW bersabda, “Istiqamahlah kamu dan janganlah menghitung-hitung (amal ibadahmu),” (HR Bukhari).

Dari Abu Amr atau Abu Amrah RA, Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi RA berkata, aku berkata, “Wahai Rasulullah, katakanlah kepadaku dalam Islam satu perkataan yang aku tidak akan menanyakannya kepada seorang pun selain padamu." Rasulullah menjawab, “Katakanlah, saya beriman kemudian istiqamahlah.” (HR Muslim).



Redaktur: Chairul Akhmad
BUAH BAKTI PADA IBU
Oleh: Tengku Zukarnain
Hari itu, Sabtu, seusai makan siang, ibu berkata kepadaku, “Nak besok kamu kan tidak kerja, ibu ingin kamu membelikan seekor ikan kakap yang besar di tempat pelelangan ikan (TPI). Ibu mau menjamu beberapa anak yatim di RT kita. Lagi pula besok genap 11 tahun bapakmu wafat. Ibu baru baca di Surah an-Nisa' ayat 134, salah satu ciri orang bertakwa adalah berinfak di saat lapang dan di saat susah.”

Aku terkesima, dan tak mampu menjawab pernyataan ibu. Istriku dengan lugas, langsung menyetujui ucapan ibu.

Di kamar, sambil tersenyum halus, istriku menyodorkan cincin kawin, mahar pernikahanku dulu. “Jual cincin ini, Bang. Ini beratnya 7 gram, Abang beli lagi cincin yang sama modelnya seberat 5 gram, ibu pasti tidak akan tahu,” ujar istriku.

Kembali aku terkesima. Saat itu, aku benar-benar tidak punya uang. “Ini kan cincin kawin kita, mahar dariku untukmu, sayang,” kataku tersendat.

“Apalah artinya sedikit pengorbanan kita dibandingkan dengan upah yang dijanjikan Allah jika kita berbakti pada ibu?” jawab istriku. Kupeluk dia, air mata kami jatuh berderai di pipi.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, aku membeli ikan kakap seberat 10 kg. Setibanya di rumah, dengan sigap istriku membersihkan sisik ikan itu, sementara aku memegang parang besar yang sudah kuasah kemarin sore. Aku yang akan membelah-belah ikan itu, pikirku.

Saat istriku membelah perut ikan dan mengeluarkan isinya, tiba-tiba, sebuah benda jatuh ke lantai. Dia memungut benda itu dan mencucinya di ember. Sejurus kemudian mata kami terbelalak. Benda itu sebuah cincin berlian besar. Cahayanya berkilau memantulkan cahaya surya pagi itu.

Ringkas cerita, siang itu anak-anak yatim berkumpul di ruang tengah rumah kami. Mereka tertawa-tawa kecil, setelah menyantap gulai kakap buatan ibu dan istriku. Kami ini orang Melayu, memang piawai menggulai ikan dan lahap pula memakannya.

Lepas shalat Zhuhur, aku bergegas ke pasar batu cincin di kotaku. Kutawarkan cincin berlian dari perut ikan itu pada Toke Liem, pemilik toko berlian paling besar di pasar itu. Dan, hampir-hampir aku tidak percaya dengan ucapan Toke Lim.

Ia menyebut angka Rp 50 juta. Dengan gemetar, kutelepon istriku. “Sayang, cincin itu harganya Rp 50 juta.” Aku menjerit memberitahukannya pada istriku lewat HP tuaku.

Saat pulang ke rumah, ibu sedang duduk bersama istriku di atas tikar di ruang tamu rumah kami. Wajahnya tersenyum puas menyambutku. Aku menangis dan menubruk tubuh ibuku. Kuletakkan wajahku ke pangkuannya dengan airmata yang bercucuran.
Lidahku terasa kelu dan tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Dengan bergetar tanganku menyodorkan plastik kresek, dan mengeluarkan lima ikat uang pecahan Rp 100 ribuan, hasil penjualan cincin dari perut ikan itu.

Ya Allah, sungguh hari ini aku meraih 'ainul yaqin', bahwa bakti pada ibu akan berbuah manis, bahkan selagi masih hidup di dunia yang fana ini. Rabbanaghfirlana, wali walidina, warhamhuma kama rabbayana shighara. Ya Allah, ampunilah dosa kami, dan dosa ibu bapak kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami saat masih kecil.



Redaktur: Chairul Akhmad
BUAH BAKTI PADA IBU
Oleh: Tengku Zukarnain
Hari itu, Sabtu, seusai makan siang, ibu berkata kepadaku, “Nak besok kamu kan tidak kerja, ibu ingin kamu membelikan seekor ikan kakap yang besar di tempat pelelangan ikan (TPI). Ibu mau menjamu beberapa anak yatim di RT kita. Lagi pula besok genap 11 tahun bapakmu wafat. Ibu baru baca di Surah an-Nisa' ayat 134, salah satu ciri orang bertakwa adalah berinfak di saat lapang dan di saat susah.”

Aku terkesima, dan tak mampu menjawab pernyataan ibu. Istriku dengan lugas, langsung menyetujui ucapan ibu.

Di kamar, sambil tersenyum halus, istriku menyodorkan cincin kawin, mahar pernikahanku dulu. “Jual cincin ini, Bang. Ini beratnya 7 gram, Abang beli lagi cincin yang sama modelnya seberat 5 gram, ibu pasti tidak akan tahu,” ujar istriku.

Kembali aku terkesima. Saat itu, aku benar-benar tidak punya uang. “Ini kan cincin kawin kita, mahar dariku untukmu, sayang,” kataku tersendat.

“Apalah artinya sedikit pengorbanan kita dibandingkan dengan upah yang dijanjikan Allah jika kita berbakti pada ibu?” jawab istriku. Kupeluk dia, air mata kami jatuh berderai di pipi.

Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, aku membeli ikan kakap seberat 10 kg. Setibanya di rumah, dengan sigap istriku membersihkan sisik ikan itu, sementara aku memegang parang besar yang sudah kuasah kemarin sore. Aku yang akan membelah-belah ikan itu, pikirku.

Saat istriku membelah perut ikan dan mengeluarkan isinya, tiba-tiba, sebuah benda jatuh ke lantai. Dia memungut benda itu dan mencucinya di ember. Sejurus kemudian mata kami terbelalak. Benda itu sebuah cincin berlian besar. Cahayanya berkilau memantulkan cahaya surya pagi itu.

Ringkas cerita, siang itu anak-anak yatim berkumpul di ruang tengah rumah kami. Mereka tertawa-tawa kecil, setelah menyantap gulai kakap buatan ibu dan istriku. Kami ini orang Melayu, memang piawai menggulai ikan dan lahap pula memakannya.

Lepas shalat Zhuhur, aku bergegas ke pasar batu cincin di kotaku. Kutawarkan cincin berlian dari perut ikan itu pada Toke Liem, pemilik toko berlian paling besar di pasar itu. Dan, hampir-hampir aku tidak percaya dengan ucapan Toke Lim.

Ia menyebut angka Rp 50 juta. Dengan gemetar, kutelepon istriku. “Sayang, cincin itu harganya Rp 50 juta.” Aku menjerit memberitahukannya pada istriku lewat HP tuaku.

Saat pulang ke rumah, ibu sedang duduk bersama istriku di atas tikar di ruang tamu rumah kami. Wajahnya tersenyum puas menyambutku. Aku menangis dan menubruk tubuh ibuku. Kuletakkan wajahku ke pangkuannya dengan airmata yang bercucuran.
Lidahku terasa kelu dan tak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun. Dengan bergetar tanganku menyodorkan plastik kresek, dan mengeluarkan lima ikat uang pecahan Rp 100 ribuan, hasil penjualan cincin dari perut ikan itu.

Ya Allah, sungguh hari ini aku meraih 'ainul yaqin', bahwa bakti pada ibu akan berbuah manis, bahkan selagi masih hidup di dunia yang fana ini. Rabbanaghfirlana, wali walidina, warhamhuma kama rabbayana shighara. Ya Allah, ampunilah dosa kami, dan dosa ibu bapak kami, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami saat masih kecil.



Redaktur: Chairul Akhmad

Kamis, 05 Juli 2012


dakwatuna.com - “Sungguh menakjubkan urusan orang mukmin itu. Semua urusannya baik baginya. Hal itu hanya dimiliki orang yang beriman. Jika dia memperoleh nikmat, dia bersyukur dan itu baik baginya. Jika ditimpa kesulitan, dia bersabar dan itu baik baginya.”(HR. Muslim)
Indah sekali hadits di atas, menggambarkan sikap seorang mukmin, bagaimana ia harus bersikap. Ketika ia mendapat nikmat, ia bersyukur. Dan ketika ia mendapat ujian, ia bersabar. Dan segala kejadiannya baik selalu. Subhanallah.
Inilah karakter orang yang beriman. Tidak ada kata mengeluh dalam hidupnya. Tidak ada kejadian yang buruk baginya. Karena ia yakin segala kejadian yang terjadi itu semua adalah atas izin Allah. Semua kejadian sudah Allah atur. Karena ia selalu yakin akan firman Allah, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat ke-286)
Sahabat, kita belajar dari kisah penuh hikmah berikut ini. Ketika itu ada 3 orang pemuda yang sedang asyik berjalan mengelilingi gunung. Ada sebuah gua yang menarik hati mereka untuk dijelajahi. Akhirnya mereka bertiga pun masuk gua tersebut. Dan dengan izin Allah, gua itu tertutup. Rasa cemas pun hinggap menghampiri mereka bertiga. Setelah merenung sekian lama, akhirnya ia memutuskan untuk berusaha sekuat tenaga untuk mendorong batu yang menghimpit gua tersebut. Dengan segala usaha dikerahkan. Hingga akhirnya mereka kecapekan dan akhirnya kelelahan. Akhirnya semua pasrah, menyerahkan semua urusan kepada Allah. Dan ketika itu mereka bertiga pun berinisiatif untuk masing-masing mengikhlaskan amal yang pernah mereka lakukan. Dan dengan izin Allah, akhirnya batu itu pun bergeser. Subhanallah!
Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar. Allah beserta orang-orang yang selalu taat beribadah kepadaNya. Inilah bentuk kepasrahan setelah usaha yang maksimal. Inilah bentuk penyerahan kepada Allah yang Maha Kuat. Allah berfirman dalam Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat ke-155 dan 156, “Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihii rajiun” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepadaNya lah kami kembali)
Sahabat, sejenak kita merenung bahwa diri ini adalah hamba yang lemah. Ketika kita kecil misalnya, kita tidak akan bisa hidup sampai sekarang kecuali karena bantuan orangtua atas izin Allah. Diri ini sungguh hamba yang lemah, bahkan mengurus diri sendiri pun masih sulit. Zhalim diri ini jika kita berani berbuat sombong hanya karena amalan kita yang masih sedikit. Bukankah Allah mengurus semua makhluk yang ada di langit dan di bumi? Maka pantaskah diri ini jika berbuat sombong?
Ya Allah ampuni diri ini yang begitu banyak dosa. Ampuni diri ini yang banyak mengeluh. Ampuni diri ini yang kurang bersyukur atas nikmat yang Engkau berikan.
Sahabat, sungguh indah hidup ini jika kita bersabar dalam menghadapi ujian. Ada dua bentuk kesabaran dalam menjalani hidup.
Yang pertama, yaitu sabar dalam ketaatan.
Rasulullah SAW ketika mendapat perintah dari Allah untuk berdakwah, beliau menjalaninya dengan penuh kesabaran. Ketika seorang nenek yang selalu mengejeknya namun ia dengan tekun menyuapi makanan dengan penuh kesabaran. Ketika ia mendapatkan timpukan batu dari kaumnya, ia kemudian berdoa, “Ya Allah ampunilah segala dosa umatku, dan semoga keturunannya menjadi orang-orang yang memperjuangkan namaMu.” Sungguh, kita banyak belajar dari akhlak beliau. Ketika ia disakiti, ia masih tetap bersikap lembut. Ketika ia dizhalimi, ia membalasnya dengan kebaikan. Subhanallah!
Yang kedua, yaitu sabar ketika menghadapi ujian.
Kita belajar banyak dari kisah Nabi Ayub. Beliau diberikan ujian oleh Allah berupa penyakit sekujur tubuhnya dipenuhi dengan ulat. Bahkan lidahnya sekalipun sudah digerogoti dengan ulat. Coba kita bayangkan, jika mangga yang manis sekalipun jika mangga itu sudah penuh dengan ulat, maka masihkah kita ingin memakannya? Namun Nabi Ayub tetap bersabar. Beliau tak henti-hentinya selalu beribadah dan bermunajat, agar ia diberi kesembuhan. Hatinya selalu yakin akan pertolongan Allah. Ia selalu yakin, Allah tidak akan menyia-nyiakan perbuatannya. Sungguh Allah Maha Menyaksikan. Dan dengan izin Allah, penyakit itu pun sembuh hanya dengan hentakan kakinya. Dan kemudian dengan hentakan kakinya pula akhirnya muncul sumber mata air. Subhanallah!
Kita belajar banyak dari kisah di atas. Betapa para pewaris agama ini menghadapi ujian yang sangat berat. Rasulullah SAW bersabda, “Siapa saja yang dikehendaki baik oleh Allah SWT, niscaya Ia akan memberikan cobaan kepadanya.” (HR. Bukhari)
Siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka akan diberikan ujian. Subhanallah. Rasulullah SAW juga bersabda di hadits yang lain, “Besarnya pahala berbanding lurus dengan besarnya cobaan. Jika Allah SWT mencintai suatu kaum, niscaya Dia akan memberinya cobaan. Siapa saja yang menerimanya, ia mendapat ridha Allah SWT dan siapa saja yang marah, ia akan mendapatkan kemarahanNya.” (HR. Tirmidzi)
Sahabat, sadarilah diri kita adalah milik Allah. Biarlah Allah saja yang mengurus diri kita. Serahkan semua urusan kita kepada Allah. Berusahalah yang terbaik dan pasrahkan urusan kita kepada Allah. Yakinlah Allah tidak akan menyia-nyiakan amal perbuatan kita sekecil apapun. Selalu bersyukur atas nikmat yang Allah berikan. Dan selalu bersabar atas segala ujian yang Allah berikan. Insya Allah hidup akan lebih nikmat, jika kita selalu berbaik sangka kepada Allah. Insya Allah.
Wallohu’alam bisshowab.

Sumber:

Rabu, 04 Juli 2012

Segeralah bertobat


Simaklah Kalam Allah duhai sahabatku yang beriman kepada Allah

"Hai hamba-hamba yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa, janganlah kalian putus asa mohon rahmat Allah, sesungguhnya Allah akan mengampuni semua dosa-dosamu, sesungguhnya Allah maha pengampun lagi maha penyayang (QS 39:53).

Simak lagi Kalam Allah, "Hai manusia, jika dosa-dosamu telah mencapai setinggi langit, kemudian

engkau sangat menyesal atas dosa-dosamu, kemudian engkau memohon ampunan kepada-Ku dengan sungguh-sungguh, niscaya akan Ku ampuni seluruh dosa-dosamu selama engkau tidak mempersekutukan-Ku". (Hadist Qudsi, Turmudzi).


SubhanAllah rahmat Allah lebih besar dan tidak sebanding dengan dosa-dosa kita, Allah lebih mengutamakan rahmat-Nya dari murka-Nya, Allah terlalu sayang pada kita.

Jangan tunda lagi sahabatku segeralah bertaubat mumpung masih ada sisa umur !...
Redaktur: Slamet Riyanto

Lelah Penuh Berkah


"Sahabatku, inilah diantara lelah yang penuh berkah Allah
  • Menuntut ilmu (QS 3:7)
  • Mencari rizki yang halal bahkan bernilai jihad ditengah banyak yg haram (QS 62:10))
  • Mengandung, melahirkan, merawat anak-anak dan keluarga (QS 31:14)
  • Mengasuh anak yatim (QS 4:6)
  • Sabar dalam sakit, cacat, kemiskinan dan musibah (QS 2:155)
  • Berdakwah (QS 41:33)
  • Merawat orang tua diusia senjanya (QS 17:23) 
  • Lelah termulia adalah berjihad perang fisabillah (QS 3:180).
Memang melelahkan tetapi penuh berkah Allah, inilah yang membuat hidup sesaat ini jadi bermakna, dan ini pula yang membuat orang beriman itu senang menikmati kelelahannya "natamatta' bimataibina"

"let's enjoy our full tired", SubhanAllah, Allahumma berkahi ikhtiar kami dan sisa umur kami... Aamiin".
Redaktur: Slamet Riyanto

Inilah Doa Pembersih Dosa


Assalaamu alaikum wa rahmatullaahi wa barkaatuhu
Sahabatku tercinta ada hal sederhana yang mudah kita lakukan setiap selesai shalat. Hanya butuh waktu lima menit kurang lebih tetapi menjadi "mimsakhohthul dzunuubi" pembersih dosa-dosa kita, kecuali dosa besar wajib disertai tobat.

Dari Abu Hurairah,  Rasulullah bersabda, "Siapa yang membaca subhanallah setiap selesai shalat 33 kali, membaca Alhamdulillah 33 kali, dan membaca Allahu Akbar 33 kali sehingga jumlah 99 Kali, kemudian ia menggenapkannya 100 kali dengan membaca La Ilaaha Illalaah Wahdahu la Syariika Lahu Lahul  Mulku wa Lahulhamdu Yuhyi wa Yumiitu wa Huwa Alaa Kulli Syain Qodiir. Maka segala kesalahannya akan diampuni meskipun "mitsla jabadil bahri" seperti buih di lautan banyaknya". (HR Muslim). 

Subhanallah betapa besar rahmat cinta kasih sayang dan magfiroh ampunan Allah  untuk kita semua, padahal baru sekali baca saat selesai sholat, bayangkan kalau dibaca setiap selesai sholat, sebelum tidur, saat dijalan dan setiap kesempatan alangkah bersih terangnya hati-hati mukmin itu.

Karena itu sahabatku berjanjilah setiap selesai shalat tidak beranjak sebelum membacanya. Insya Allah... Aamiin.

Redaktur: Slamet Riyanto

Ramadhan

Wah Ramadhan udah didepan pintu AYO SAMBUT RAMADHAN DENGAN PENUH KEGEMBIRAAN

Jumat, 29 Juni 2012

Dan takutlah kamu kepada suatu hari di waktu seseorang tidak dapat menggantikan seseorang lain sedikitpun dan tidak akan diterima suatu tebusan daripadanya dan tidak akan memberi manfaat sesuatu syafaat kepadanya dan tidak (pula) mereka akan ditolong. ((QS. Al-Baqarah [2]:123))

Makna Shalat dan Ibadah Sosial

REPUBLIKA.CO.ID,  Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein


Suatu ketika saya berdiskusi dengan salah seorang teman sekantor ikhwal shalat dan ibadah sosial. Teman saya itu, bertanya, ''Bagaimana aspek sosial dari ibadah shalat?''
Dia merasa bahwa ritual shalat hanya bersifat vertikal, antara manusia dengan Allah SWT (Hamblumminallah).
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengkajinya melalui Alquran. Dalam sebuah ayatnya, Allah SWT berfiman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku” (Al Baqarah : 43).
Ayat itu menyiratkan bahwa shalat dan ibadah sosial (zakat) merupakan ‘satu paket’ ibadah yang harus dilakukan secara bersamaan. Karena shalat merupakan wakil dari jalur hubungan dengan Allah, sedangkan zakat adalah wakil dari jalan hubungan dengan sesama manusia.
Allah SWT berfirman, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Ma’uun, 107 : 1-7)
Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa orang yang shalat itu dapat dimasukkan ke dalam neraka bilamana shalat mereka tidak membuatnya menjadi pembela kepada fakir miskin dan anak yatim.
Sebagian ulama besar berpendapat, jika shalat adalah tiang agama, maka ibadah sosial (zakat) merupakan mercusuar agama. Atau dengan kata lain shalat merupakan ibadah jasmaniah yang paling mulia. Sedangkan ibadah sosial dipandang sebagai ibadah hubungan kemasyarakatan yang paling mulia.
Dengan demikian, shalat dapat dipahami sebagai sarana melatih diri untuk menjaga hak-hak sosial. Menjaga hak-hak orang lain adalah diantara bukti nyata keadilan. Untuk menjaga hak-hak orang lain.
  Shalat yang juga merupakan ibadah terbaik, mempunyai peran luar biasa dalam mengokohkan kekuatan pengontrol pada diri manusia. Untuk itu, shalat sangat berpengaruh pada perluasan keadilan individu dan sosial.
Umat Islam juga meyakini bahwa sholat dan ibadah sosial merupakan pintu masuk surga Allah SWT. Dalam sebuah hadis disebutkan, orang yang mendirikan shalat dan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga.

“Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari).
Hadis di atas juga dapat kita renungkan dari dampak shalat terhadap ibadah sosial. Seseorang saat mengerjakan sholat, harus menjaga syarat-syarat yang di antaranya adalah kehalalan tempat dan pakaian yang digunakannnya. Serta tidak pernah melupakan aspek ibadah sosial. Dengan demikian, shalat pada dasarnya mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan keimanan secara sosial.


Redaktur: Heri Ruslan

Makna Shalat dan Ibadah Sosial

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Dr HM Harry Mulya Zein Suatu ketika saya berdiskusi dengan salah seorang teman sekantor ikhwal shalat dan ibadah sosial. Teman saya itu, bertanya, ''Bagaimana aspek sosial dari ibadah shalat?'' Dia merasa bahwa ritual shalat hanya bersifat vertikal, antara manusia dengan Allah SWT (Hamblumminallah). Untuk menjawab pertanyaan tersebut, ada baiknya kita mengkajinya melalui Alquran. Dalam sebuah ayatnya, Allah SWT berfiman: “Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan rukulah beserta orang-orang yang ruku” (Al Baqarah : 43). Ayat itu menyiratkan bahwa shalat dan ibadah sosial (zakat) merupakan ‘satu paket’ ibadah yang harus dilakukan secara bersamaan. Karena shalat merupakan wakil dari jalur hubungan dengan Allah, sedangkan zakat adalah wakil dari jalan hubungan dengan sesama manusia. Allah SWT berfirman, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, orang-orang yang berbuat ria, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS. Al-Ma’uun, 107 : 1-7) Dari ayat ini kita bisa memahami bahwa orang yang shalat itu dapat dimasukkan ke dalam neraka bilamana shalat mereka tidak membuatnya menjadi pembela kepada fakir miskin dan anak yatim. Sebagian ulama besar berpendapat, jika shalat adalah tiang agama, maka ibadah sosial (zakat) merupakan mercusuar agama. Atau dengan kata lain shalat merupakan ibadah jasmaniah yang paling mulia. Sedangkan ibadah sosial dipandang sebagai ibadah hubungan kemasyarakatan yang paling mulia. Dengan demikian, shalat dapat dipahami sebagai sarana melatih diri untuk menjaga hak-hak sosial. Menjaga hak-hak orang lain adalah diantara bukti nyata keadilan. Untuk menjaga hak-hak orang lain. Shalat yang juga merupakan ibadah terbaik, mempunyai peran luar biasa dalam mengokohkan kekuatan pengontrol pada diri manusia. Untuk itu, shalat sangat berpengaruh pada perluasan keadilan individu dan sosial. Umat Islam juga meyakini bahwa sholat dan ibadah sosial merupakan pintu masuk surga Allah SWT. Dalam sebuah hadis disebutkan, orang yang mendirikan shalat dan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga. “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR Bukhari). Hadis di atas juga dapat kita renungkan dari dampak shalat terhadap ibadah sosial. Seseorang saat mengerjakan sholat, harus menjaga syarat-syarat yang di antaranya adalah kehalalan tempat dan pakaian yang digunakannnya. Serta tidak pernah melupakan aspek ibadah sosial. Dengan demikian, shalat pada dasarnya mengajarkan kepada kita untuk terus meningkatkan keimanan secara sosial. Redaktur: Heri Ruslan

Kamis, 28 Juni 2012

Cara Mengatasi Anak Pemarah

Anak pemarah merupakan masalah bagi orang tua, bayangkan saja anak selalu marah-marah jika permintaannya tidak dituruti, bagaimana pusingnya orang tua dalam menghadapi anak yang seperti itu? Jika anak sedang emosi atau marah biasanya dilampiaskan dengan cara membanting pintu, melempar sesuatu, menendang meja, mengacaukan segala hal dan berteriak-teriak penuh kemarahan. Rasa marah bisa timbul akibat banyak sebab, termasuk yang terjadi pada anak-anak. Terkadang orangtua ikut kesal jika anak selalu bertindak marah-marah. Berikut akan dipaparkan bagaimana mengatasi anak pemarah menurut versi Vera Farah Bararah. Read more: Cara Mengatasi Anak Pemarah | belajarpsikologi.com Sebenarnya ada dua perasaan dasar yang menyebabkan anak-anak memiliki sifat pemarah. yaitu: 1. Seorang anak memiliki kengintahuan dan kemauan yang kuat untuk melakukan sesuatu, tapi seringkali kemampuannya tidak sekuat keinginannya. Hal ini biasanya membuat ia kesal dan menuntunnya ke arah frustasi yang diungkapkan dengan marah-marah. 2. Kemauan dan keinginannya untuk cepat menjadi besar. Biasanya anak-anak akan merasakan hal ini jika orangtua sudah melarang-larangnya dengan kata “tidak”. Karena ia belum bisa menguasai emosinya secara logis, maka ia memilih mengekspresikannya ke luar melalui kemarahan. Cara Mengatasi Anak Pemarah Sifat anak yang pemarah bisa menjadi masalah bagi ibu dan anak. Karena itu orangtua perlu memaklumi sifat anaknya tersebut. Seperti dikutip dari The baby Book karangan William dan Martha Sears, Jumat (19/3/2010) ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk meredamkan amarah, yaitu: 1. Mempelajari hal yang menyebabkan anak marah. Ketahui dengan pasti hal apa yang dapat memicu kemarahannya, seperti lapar, bosan, suasana lingkungan yang tidak mendukung atau lainnya. Dengan mengetahui penyebabnya, maka orangtua dapat mencegah kemarahan anak. 2. Memberikan contoh sikap tenang padanya. Anak mempelajari sesuatu dari apa yang dilihat dan dengarnya, karena itu penting untuk mencontohkan sikap tenang didepannya. Jika lingkungan disekitarnya suka marah-marah, maka anak akan menganggap bahwa perilaku ini merupakan hal yang wajar. 3. Ketahui siapa yang sedang marah. Bila orangtua adalah orang yang mudah emosi, maka akan sangat mudah bagi anak untuk memancing kemarahan dan berakhir dengan lomba saling teriak tanpa ada penyelesaian. Karena itu perlu diketahui siapa yang marah agar kondisi tetap terkendali. 4. Usahakan untuk tetap tenang meskipun berada di tempat umum. Sebaiknya orangtua tidak menunjukkan kemarahannya pada anak di depan banyak orang, karena anak akan semakin menunjukkan rasa marahnya. Jadi cobalah untuk menggendong dan membawanya ke tempat yang lebih sepi. 5. Memeluk dan merangkulnya erat seperti pelukan gaya beruang. Sebagian besar anak yang kehilangan kontrol akan menjadi lebih tenang saat dipeluk. Pelukan ini tidak akan terlalu mengekangnya, namun tetap memberinya keamanan dan kenyamanan yang dibutuhkan saat sedang marah. 6. Menahan diri adalah terapi yang baik. Tunggulah sampai ia tenang sebelum memulai konseling atau mengatasi permasalahannya, karena jika ia masih marah-marah kemungkinan Anda akan terpancing untuk ikut marah. Semoga dapat bermanfaat dalam mengatasi anak pemarah..!! Read more: Cara Mengatasi Anak Pemarah | belajarpsikologi.com

Persepsi yang kuarang pas kepada dunia Anak

Alhamdulullah Hari Ini Alloh masih memberikan kehidupan kepadaku yang menjadi pertanyaanku apakah besok masih bisa menatap cerahnya pagi hari dan senyum renyah buah hatiku semua, maafkan abimu nak yang belum bisa bersabar untuk menghadapi segala macam kreatifitasmu segala macam canda tawamu, abi masih belum bisa menyelami dunia semangatmu untuk terus bergerak berkarya!!!! maafkan ABI dan Umimu Ya nak? met istirahat mimpi yang indah semoga kita semua sekeluarga akan dukumpulkan disyurga-NYA amien
Abi & Umi 
Yang selalu menyayangimu selalalu

SENYUM TULUS

 SENYUM TULUS
dakwatuna.com – Ada sebuah amalan yang kecil dan sangat mudah untuk dilakukan oleh semua orang. Amalan atau perbuatan ini dapat membuat kita bahagia, atau juga saat kita merasa bahagia maka kita melakukan amalan ini. Orang-orang atau saudara-saudara kita yang melihat kita sedang melakukan amalan ini juga akan merasakan kebahagiaan di hatinya.  Apakah amalan itu? Yak… jawabannya adalah senyum. Akan tetapi senyum yang bagaimana yang bisa seperti itu? Karena senyum ada bermacam-macam. Ingin tahu jawabannya, sok… atuhAnda musti baca tulisan ini sampai selesai.
Rasulullah SAW bersabda,
“Senyummu di wajah saudaramu adalah sedekah.”(H.R. Tirmidzi)
Setiap senyum kejujuran yang Anda berikan kepada saudara Anda dengan penuh keikhlasan akan berbalas seperti pahala sedekah. Sehingga seseorang yang tetap memelihara senyumnya tentu akan mendapatkan kebaikan yang banyak.
Jika kita berbicara matematis. Eits jangan pusing dulu, santai aja lagi. Coba kita bayangkan bahwa banyaknya kebaikan yang akan didapatkan oleh orang yang senantiasa memelihara senyum adalah sebanyak orang-orang yang ia temui dengan senyum setiap hari sepanjang hidupnya. Jadi kebaikan yang didapat bisa kita rumuskan dengan menghitung jumlah rata-rata orang yang kita temui dalam sehari dengan senyum dikalikan dengan hari seumur hidup. Maka sebanyak itulah kebaikan yang akan kita dapatkan.
Dalam hadits yang lain, Rasulullah SAW bersabda:
“Janganlah kalian meremehkan suatu perbuatan yang kecil meskipun hanya sekadar bertemu dengan saudaramu dengan wajah yang berseri.”(HR. Muslim)
Tentu wajah yang dihiasi senyuman tampak lebih indah dibandingkan dengan wajah yang cemberut. Seseorang dengan senyumnya yang tulus akan terlihat lebih tampan bagi laki-laki dan akan tampak lebih cantik bagi yang perempuan.
Para orang pintar/ilmuwan mengatakan saat manusia tersenyum, hanya dibutuhkan 13 urat syaraf yang bergerak. Akan tetapi saat seseorang muram, diperlukan sekitar 47 urat syaraf yang bergerak. Tentunya berwajah muram lebih melelahkan dibandingkan dengan kita tersenyum. Jadi, masih lebih memilih bermuka muram yang lebih melelahkan atau tersenyum yang juga akan membuat wajah kita terlihat lebih tampan bagi yang pria dan cantik bagi yang perempuan? Penulis menyarankan agar para pembaca yang cantik dan ganteng (karena semua yang diciptakan Allah itu indah), akan tetapi ada yang lebih ganteng dan cantik lagi para pembaca sekalian.
Seperti yang sudah dituliskan di awal tadi. Maka penulis akan memberikan penjelasan mengenai berbagai macam senyuman. Berdasarkan buku “Lughatul Jasad” karya Athif Abdul Id yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Muhyiddin Mas Rida, Lc, ada berbagai macam senyuman yaitu sebagai berikut:
  1. Senyuman yang tulus
  2. Senyuman palsu
  3. Senyum yang hampa memicu kesedihan
  4.  Senyuman takjub
  5. Senyuman lembut dan hangat
  6. Senyuman optimis dan menggembirakan
  7. Senyuman munafik
Dan senyum-senyum lainnya yang untuk lebih jelasnya bisa langsung baca bukunya cari di toko buku terdekat, jangan di toko bangunan OK. Dari semua senyum yang disebutkan di atas, hanya satu saja yang penuh dengan kehangatan, yaitu senyuman yang tulus. Senyuman yang tulus dapat memberikan pengaruh positif kepada orang lain.
Karena itulah saudaraku, usahakanlah agar kita bisa selalu tersenyum dengan tulus/ikhlas. Karena kebaikan yang akan kita dapatkan tidaklah sedikit melainkan banyak sekali. Marilah kita hiasi wajah kita yang indah rupawan yang diberikan Allah ini dengan senyum dan usahakan untuk tidak menghiasi wajah kita dengan wajah yang muram.

Imu

subhanalloh semakin kita mempelajari ilmu kita akan semakin merasa belum bisa apa apa masih banyak yang belum kita ketahui

Buku agro



https://lh4.googleusercontent.com/-ONB7dxymm6Q/T-JrDUI8WrI/AAAAAAAAAGc/zH3kyaK95hk/s125/cover+copy.pngTelah Terbit edisi Perdana
Buku yang anda cari
Manajemen Agribisnis
Penerbit : Mandiri Graffindo Press
Cukup Dengan Rp. 50.000,-
Telp. (0281) 657 3058
Hub. 081328845937

Tiga Bekal untuk Para PemudaTiga Bekal untuk Para Pemuda

dakwatuna.com – Seorang yang memegang misi panjang, tentu menyiapkan bekal menjadi hal amat penting. Demikian pula dengan pemuda yang sudah sadar akan peran sebenarnya di tengah sekumpulan makhluk Allah lainnya. Bekal di sini tak cukup hanya mencakup finansial saja. Justru bekal non fisiklah yang terbukti membuat banyak pejuang dan para pendahulu kita berhasil dalam misinya.
Bang Porkas (2012) menuturkan setidaknya ada tiga bekal yang patut diusahakan berada dalam genggaman pejuang muda, yaitu at-tarbiyah al-fithriyah, al-‘ilmu wa al-hikmah, dan asy-syakhshiyah al-qiyaadiyah.
1. At-Tarbiyah al-Fithriyah (Pendidikan Jiwa)
Makna at-tarbiyah al-fithriyah di sini sama dengan at-tarbiyah al-islamiyyah, karena pada dasarnya fitrah dan jiwa manusia ialah sebagai seorang Muslim yang mentauhidkan Allah SWT. Adapun pokok kegiatan di dalamnya ialah pembinaan kesadaran, pemahaman, dan karakter keislaman serta pengasahan potensi seorang Muslim. Seluruh rangkaian proses tersebut tentu tak berhenti di titik menjadi pribadi yang shalih individu, namun dituntut menjadi pribadi yang shalih sosial pula. Artinya, salah indikator keberhasilan proses at-tarbiyah al-islamiyyah seseorang ialah sejauh mana kontribusi yang bisa dia berikan untuk umat di sekelilingnya. Adapun tindakan kongkretnya ialah berupa mujahadah (berupaya sungguh-sungguh) untuk senantiasa istiqamah dalam menambah kapasitas keilmuan, amal, serta meningkatkan skill penunjang misi. Jadi, pendidikan jiwa di sini mencakup tak hanya tazkiyatun nafs, tapi banyak hal lain yang membentuk kepribadian seorang Muslim yang utuh.
2. Al-‘Ilmu wa al-Hikmah (Ilmu dan Kebijaksanaan)
Selain keilmuan agama, keilmuan umum pun menjadi syarat yang tidak bisa diabaikan oleh para pengemban amanah masa depan. Masyarakat yang menjadi target kita tentu akan lebih respect manakala memiliki satu atau lebih disiplin ilmu yang kita kuasai. Peluang inilah yang membantu tersampainya setiap pesan kebenaran yang membangun. Lain keilmuan, lain pula kebijaksanaan. Perlu dicatat di sini bahwa jangan sampai sebagai generasi muda kita terlampau berlebihan. Hal ini sebenarnya tidak wajar karena hakikat seorang pemuda ialah penuh dengan semangat yang menggebu, tidak apatis. Dan kebijaksanaan di sini sebaiknya kita tarik ke arah keseimbangan antara perhitungan yang matang dan semangat membumikan kebenaran di lingkungan kita. Jadi, tidak ada dalih bagi pemuda untuk menjadikan tameng sikap bijaksana untuk tidak bergerak. Demikian pula jangan sampai gerak-gerik perbaikan itu dilakukan serampangan tanpa adanya pertimbangan.
3. Asy-Syakhshiyah al-Qiyaadiyah wa al-Jundiyyah (Pribadi Pemimpin dan Prajurit)
Pemuda dengan pribadi ganda (pemimpin sekaligus prajurit) pun ternyata amat penting guna memuluskan agenda kita. Hal ini berkaitan dengan pencapaian misi bersama dalam sebuah jamaah atau perkumpulan. Ada kalanya kita memang diperlukan untuk menjadi pimpinan dan pionir. Namun, suatu saat kita pun harus siap menjadi prajurit atau yang dipimpin. Perpindahan peran seperti ini tentu dilakukan bukan sekadar formalitas, namun demi tercapainya tujuan dengan baik. Kita sebaiknya tampil menjadi pimpinan saat memang itu adalah bidang yang kita kuasai dan dikhawatirkan tidak maksimal bila dipegang orang lain. Tapi, ketika pada saatnya sebuah tugas itu bukan merupakan bidang kita ada orang lain yang bisa melakukannya, maka kita menjadi yang dipimpin adalah pilihan utama. Apalagi jika kita kaitkan hal ini dengan regenerasi atau distribusi tugas, maka shifting position ini amat penting adanya. Tepat sekali jika orang bijak mengatakan bahwa kepemimpinan sejati itu bukan perkara posisi, namun perkara kontribusi.
Sekali lagi, bahwa segala mujahadah kita sebagai generasi mudah melalui rangkaian bekal di atas  harus mendapat perhatian khusus. Alangkah dekatnya kemenangan itu jika bekal sudah kita genggam dan peran sebagai pemuda harapan masa depan sudah kita tempuh dengan amat baik. Akhirnya, kita harus sadari bahwa hal itu tentu bukan perkara mudah, namun bukan berarti tak mungkin.
Disarikan dari materi “Peran Pemuda dalam Membangun Bangsa” oleh Porkas Halomoan (mantan Ketua Rohis UI; inisiator berdirinya Salam UI; Mantan pengurus departemen Kaderisasi KAMMI Pusat; dan Direktur PT Azhar Tri Daya) dalam agenda Mabit FSLDK Jadebek di Masjid Baitul Ihsan kompleks Bank Indonesia, Jakarta pada hari Sabtu-Ahad, 9-10 Juni 2012.

NIkmat yang sangat Besar!!!!

Begitu besar nikmat Alloh SWT sehinga kita semua tidak akan mampu menghitungnya satu persatu kita ambil contoh kecil saja ternyata udara yang kita hirup setiap hari kalau dihitung dengan uang maka kita harus membayar kepada Alloh Rp.176.000.000,-
Fabiayyi Alairabbikuma tukadiban (nikmat Alloh mana lagi yang engkau dustakan)

Rabu, 27 Juni 2012

Iman adalah KUNCi

Hidup adalah sesuatu yang indah tapi semua tak akan menjadi indah kalau tidak ada keimanan dalam diri kita karena itu adalah hakekat dari kehidupan yang sebenarnya, karena setiap apa yang kita lakukan adalah parameternya adalah keimanan kita semua karena dari situlah kita meletakan Alloh dengan posisi yang benar sehingga kitapun akan dipermudah oleh Alloh SWT. Mari terus berkarya demi kajayaan Islam dengan meningkatkan keimanan kita semua